KISAH SUFI"Syekh Abdul Qadir Jaelani"

Syekh Abdul
Qadir Jaelani
Sulthanul Auliya
Syekh Abdul Qadir Al-
Jailani Rahimahullah,
(bernama lengkap
Muhyi al Din Abu
Muhammad Abdul
Qadir ibn Abi Shalih
Al-Jailani ). Lahir di Jailan
atau Kailan tahun 470
H/1077 M kota Baghdad
sehingga di akhir nama
beliau ditambahkan
kata al Jailani atau al
Kailani. Biografi beliau
dimuat dalam Kitab
الذيل على طبق
الحنابلة Adz Dzail
‘Ala Thabaqil Hanabilah
I/301-390, nomor 134,
karya Imam Ibnu Rajab
al Hambali.
Kelahiran,
Silsilah dan
Nasab
Ada dua riwayat
sehubungan dengan
tanggal kelahiran al-
Ghauts al_A’zham Syekh
Abdul Qodir al-Jilani.
Riwayat pertama yaitu
bahwa ia lahir pada 1
Ramadhan 470 H.
Riwayat kedua
menyatakan Ia lahir
pada 2 Ramadhan 470 H.
Tampaknya riwayat
kedua lebih dipercaya
oleh ulama[1]. Silsilah
Syekh Abdul Qodir
bersumber dari Khalifah
Sayyid Ali al-Murtadha
r.a ,melalui ayahnya
sepanjang 14 generasi
dan melaui ibunya
sepanjang 12 generasi.
Syekh Sayyid
Abdurrahman Jami rah.a
memberikan komentar
mengenai asal usul al-
Ghauts al-A’zham r.a
sebagi berikut : “Ia
adalah seorang Sultan
yang agung, yang
dikenal sebagial-Ghauts
al-A’zham. Ia mendapat
gelar sayyid dari silsilah
kedua orang tuanya,
Hasani dari sang ayah
dan Husaini dari sang
ibu”[1]. Silsilah
Keluarganya adalah
Sebagai berikut : Dari
Ayahnya(Hasani)[1]:
Syeh Abdul Qodir bin
Abu Samih Musa bin
Abu Abdillah bin Yahya
az-Zahid bin Muhammad
bin Dawud bin Musa
Tsani Abdullah Tsani bin
Musa al-Jaun Abdul
Mahdhi bin Hasan al-
Mutsanna bin Hasan as-
Sibthi bin Ali bin Abi
Thalib, Suami Fatimah
Az-Zahra binti
Rasulullah SAW
Dari ibunya(Husaini)[1] :
Syeh Abdul Qodir bin
Ummul Khair Fathimah
binti Abdullah Sum’i bin
Abu Jamal bin
Muhammad bin Mahmud
bin Abul ‘Atha Abdullah
bin Kamaluddin Isa bin
Abu Ala’uddin bin Ali
Ridha bin Musa al-
Kazhim bin Ja’far al-
Shadiq bin Muhammad
al-Baqir bin Zainal ‘Abidin
bin Husain bin Ali bin Abi
Thalib, Suami Fatimah
Az-Zahra binti
Rasulullah SAW
Masa Muda
Dalam usia 8 tahun ia
sudah meninggalkan
Jilan menuju Baghdad
pada tahun 488 H/ 1095
M. Karena tidak diterima
belajar di Madrasah
Nizhamiyah Baghdad,
yang waktu itu dipimpin
Ahmad al Ghazali, yang
menggantikan
saudaranya Abu Hamid
al Ghazali. Di Baghdad
beliau belajar kepada
beberapa orang ulama
seperti Ibnu Aqil, Abul
Khatthat, Abul Husein
al Farra ’ dan juga
Abu Sa’ad al
Muharrimi. Belaiu
menimba ilmu pada
ulama-ulama tersebut
hingga mampu
menguasai ilmu-ilmu
ushul dan juga
perbedaan-perbedaan
pendapat para ulama.
Dengan kemampuan itu,
Abu Sa ’ad al Mukharrimi
yang membangun
sekolah kecil-kecilan di
daerah Babul Azaj
menyerahkan
pengelolaan sekolah itu
sepenuhnya kepada
Syeikh Abdul Qadir al
Jailani. Ia mengelola
sekolah ini dengan
sungguh-sungguh.
Bermukim di sana
sambil memberikan
nasehat kepada orang-
orang di sekitar sekolah
tersebut. Banyak orang
yang bertaubat setelah
mendengar nasehat
beliau. Banyak pula
orang yang bersimpati
kepada beliau, lalu
datang menimba ilmu di
sekolah beliau hingga
sekolah itu tidak
mampu menampung
lagi.
Murid-Murid
Murid-murid beliau
banyak yang menjadi
ulama terkenal, seperti
al Hafidz Abdul Ghani
yang menyusun kitab
Umdatul Ahkam Fi
Kalami Khairil Anam,
Syeikh Qudamah,
penyusun kitab fiqh
terkenal al Mughni.
Perkataan
Ulama tentang
Beliau
Syeikh Ibnu Qudamah
sempat tinggal
bersama beliau selama
satu bulan sembilan
hari. Kesempatan ini
digunakan untuk belajar
kepada Syeikh Abdul
Qadir al Jailani sampai
beliau meninggal dunia.
(Siyar A ’lamin Nubala
XX/442).
Syeikh Ibnu Qudamah
ketika ditanya tentang
Syeikh Abdul Qadir
menjawab, ”Kami
sempat berjumpa
dengan beliau di akhir
masa kehidupannya. Ia
menempatkan kami di
sekolahnya. Ia sangat
perhatian terhadap
kami. Kadang beliau
mengutus putra beliau
yang bernama Yahya
untuk menyalakan
lampu buat kami. Ia
senantiasa menjadi
imam dalam salat
fardhu.”
Beliau adalah seorang
yang berilmu, ber aqidah
Ahlu Sunnah, dan
mengikuti jalan Salaf al
Shalih. Belaiau dikenal
pula banyak memiliki
karamah. Tetapi,
banyak (pula) orang
yang membuat-buat
kedustaan atas nama
beliau. Kedustaan itu
baik berupa kisah-kisah,
perkataan-perkataan,
ajaran-ajaran, tariqah
(tarekat/jalan) yang
berbeda dengan jalan
Rasulullah, para
sahabatnya, dan
lainnya. Di antaranya
dapat diketahui dari
pendapat Imam Ibnu
Rajab.
Tentang
Karamahnya
Syeikh Abdul Qadir al
Jailani adalah seorang
yang diagungkan pada
masanya. Diagungkan
oleh para syeikh, ulama,
dan ahli zuhud. Ia
banyak memiliki
keutamaan dan
karamah. Tetapi, ada
seorang yang bernama
al Muqri ’ Abul Hasan asy
Syathnufi al Mishri
(nama lengkapnya
adalah Ali Ibnu Yusuf bin
Jarir al Lakhmi asy
Syathnufi) yang
mengumpulkan kisah-
kisah dan keutamaan-
keutamaan Syeikh
Abdul Qadir al Jailani
dalam tiga jilid kitab. Al
Muqri’ lahir di Kairo tahun
640 H, meninggal tahun
713 H. Dia dituduh
berdusta dan tidak
bertemu dengan Syeikh
Abdul Qadir al Jailani. Dia
telah menulis perkara-
perkara yang aneh dan
besar (kebohongannya).
“Cukuplah seorang itu
berdusta, jika dia
menceritakan yang dia
dengar”, demikian kata
Imam Ibnu Rajab. “Aku
telah melihat sebagian
kitab ini, tetapi hatiku
tidak tentram untuk
berpegang dengannya,
sehingga aku tidak
meriwayatkan apa yang
ada di dalamnya. Kecuali
kisah-kisah yang telah
masyhur dan terkenal
dari selain kitab ini.
Karena kitab ini banyak
berisi riwayat dari
orang-orang yang tidak
dikenal. Juga terdapat
perkara-perkara yang
jauh dari agama dan
akal, kesesatan-
kesesatan, dakwaan-
dakwaan dan perkataan
yang batil tidak
berbatas, seperti kisah
Syeikh Abdul Qadir
menghidupkan ayam
yang telah mati, dan
sebagainya. Semua itu
tidak pantas
dinisbatkan kepada
Syeikh Abdul Qadir al
Jailani rahimahullah.”
Kemudian didapatkan
pula bahwa al Kamal
Ja ’far al Adfwi (nama
lengkapnya Ja’far bin
Tsa’lab bin Ja’far bin Ali
bin Muthahhar bin
Naufal al Adfawi),
seorang ulama
bermadzhab Syafi’i. Ia
dilahirkan pada
pertengahan bulan
Sya ’ban tahun 685 H
dan wafat tahun 748 H
di Kairo. Biografi beliau
dimuat oleh al Hafidz di
dalam kitab Ad Durarul
Kaminah, biografi nomor
1452. al Kamal
menyebutkan bahwa
asy Syathnufi sendiri
tertuduh berdusta atas
kisah-kisah yang
diriwayatkannya dalam
kitab ini.(Dinukil dari
kitab At Tashawwuf Fii
Mizanil Bahtsi Wat
Tahqiq, hal. 509, karya
Syeikh Abdul Qadir bin
Habibullah as Sindi,
Penerbit Darul Manar,
Cet. II, 8 Dzulqa’dah
1415 H / 8 April 1995
M.).
Karya
Imam Ibnu Rajab juga
berkata, ”Syeikh Abdul
Qadir al Jailani
Rahimahullah memiliki
pemahaman yang
bagus dalam masalah
tauhid, sifat-sifat Allah,
takdir, dan ilmu-ilmu
ma’rifat yang sesuai
dengan sunnah.”
Karya karyanya [1] :
1. al Ghunyah Li Thalibi
Thariqil Haq,
2. Futuhul Ghaib.
3. Al-Fath ar-Rabbani
4. Jala’ al-Khawathir
5. Sirr al-Asrar
6. Malfuzhat
7. Khamsata “Asyara
Maktuban
Murid-muridnya
mengumpulkan ihwal
yang berkaitan dengan
nasehat dari majelis-
majelis beliau. Dalam
masalah-masalah sifat,
takdir dan lainnya, ia
berpegang dengan
sunnah. Ia membantah
dengan keras terhadap
orang-orang yang
menyelisihi sunnah.
Ajaran-ajaranya
Sam’ani berkata, ”
Syeikh Abdul Qadir Al
Jailani adalah penduduk
kota Jailan. Ia seorang
Imam bermadzhab
Hambali. Menjadi guru
besar madzhab ini pada
masa hidup beliau.”
Imam Adz Dzahabi
menyebutkan biografi
Syeikh Abdul Qadir Al
Jailani dalam Siyar
A ’lamin Nubala, dan
menukilkan perkataan
Syeikh sebagai
berikut, ”Lebih dari lima
ratus orang masuk
Islam lewat tanganku,
dan lebih dari seratus
ribu orang telah
bertaubat. ”
Imam Adz Dzahabi
menukilkan perkataan-
perkataan dan
perbuatan-perbuatan
Syeikh Abdul Qadir yang
aneh-aneh sehingga
memberikan kesan
seakan-akan beliau
mengetahui hal-hal yang
ghaib. Kemudian
mengakhiri perkataan,
” Intinya Syeikh Abdul
Qadir memiliki
kedudukan yang agung.
Tetapi terdapat ritikan-
kritikan terhadap
sebagian perkataannya
dan Allahmenjanjikan
(ampunan atas
kesalahan-kesalahan
orang beriman ). Namun
sebagian perkataannya
merupakan kedustaan
atas nama
beliau.”( Siyar XX/451 ).
Imam Adz Dzahabi juga
berkata, ” Tidak ada
seorangpun para kibar
masyayikh yang
riwayat hidup dan
karamahnya lebih
banyak kisah hikayat,
selain Syeikh Abdul
Qadir Al Jailani, dan
banyak di antara
riwayat-riwayat itu
yang tidak benar
bahkan ada yang
mustahil terjadi “.
Syeikh Rabi’ bin Hadi Al
Madkhali berkata dalam
kitabnya, Al Haddul
Fashil,hal.136, ” Aku
telah mendapatkan
aqidahnya ( Syeikh
Abdul Qadir Al Jaelani )
di dalam kitabnya yang
bernama Al Ghunyah.
(Lihat kitab Al-Ghunyah
I/83-94) Maka aku
mengetahui bahwa dia
sebagai seorang Salafi.
Ia menetapkan nama-
nama dan sifat-sifat
Allah dan aqidah-aqidah
lainnya di atas manhaj
Salaf. Ia juga
membantah kelompok-
kelompok Syi ’ah,
Rafidhah, Jahmiyyah,
Jabariyyah, Salimiyah,
dan kelompok lainnya
dengan manhaj
Salaf. ” (At Tashawwuf
Fii Mizanil Bahtsi Wat
Tahqiq, hal. 509, karya
Syeikh Abdul Qadir bin
Habibullah As Sindi,
Penerbit Darul Manar,
Cet. II, 8 Dzulqa ’dah
1415 H / 8 April 1995 M.)
Awal
Kemasyhuran
Al-Jaba’i berkata bahwa
Syeikh Abdul Qadir
pernah berkata
kepadanya, “Tidur dan
bangunku sudah diatur.
Pada suatu saat dalam
dadaku timbul keinginan
yang kuat untuk
berbicara. Begitu
kuatnya sampai aku
merasa tercekik jika
tidak berbicara. Dan
ketika berbicara, aku
tidak dapat
menghentikannya. Pada
saat itu ada dua atau
tiga orang yang
mendengarkan
perkataanku. Kemudian
mereka mengabarkan
apa yang aku ucapkan
kepada orang-orang,
dan merekapun
berduyun-duyun
mendatangiku di masjid
Bab Al-Halbah. Karena
tidak memungkinkan
lagi, aku dipindahkan ke
tengah kota dan
dikelilingi dengan lampu.
Orang-orang tetap
datang di malam hari
dengan membawa lilin
dan obor hingga
memenuhi tempat
tersebut. Kemudian, aku
dibawa ke luar kota dan
ditempatkan di sebuah
mushalla. Namun,
orang-orang tetap
datang kepadaku,
dengan mengendarai
kuda, unta bahkan
keledai dan menempati
tempat di sekelilingku.
Saat itu hadir sekitar 70
orang para wali
radhiallahu ‘anhum]].
Kemudian, Syeikh Abdul
Qadir melanjutkan, “Aku
melihat Rasulallah SAW
sebelum dzuhur, beliau
berkata kepadaku,
“anakku, mengapa
engkau tidak
berbicara?”. Aku
menjawab, “Ayahku,
bagaimana aku yang
non arab ini berbicara di
depan orang-orang fasih
dari Baghdad?”. Ia
berkata, “buka
mulutmu”. Lalu, beliau
meniup 7 kali ke dalam
mulutku kemudian
berkata, ”bicaralah dan
ajak mereka ke jalan
Allah dengan hikmah
dan peringatan yang
baik ”. Setelah itu, aku
salat dzuhur dan duduk
serta mendapati jumlah
yang sangat luar biasa
banyaknya sehingga
membuatku gemetar.
Kemudian aku melihat
Ali r.a. datang dan
berkata, “buka
mulutmu”. Ia lalu
meniup 6 kali ke dalam
mulutku dan ketika aku
bertanya kepadanya
mengapa beliau tidak
meniup 7 kali seperti
yang dilakukan
Rasulallah SAW, beliau
menjawab bahwa beliau
melakukan itu karena
rasa hormat beliau
kepada Rasulallah SAW.
Kemudian, aku berkata,
“Pikiran, sang penyelam
yang mencari mutiara
ma’rifah dengan
menyelami laut hati,
mencampakkannya ke
pantai dada , dilelang
oleh lidah sang calo,
kemudian dibeli dengan
permata ketaatan
dalam rumah yang
diizinkan Allah untuk
diangkat ”. Ia kemudian
menyitir, “Dan untuk
wanita seperti Laila,
seorang pria dapat
membunuh dirinya dan
menjadikan maut dan
siksaan sebagai
sesuatu yang manis.”
Dalam beberapa
manuskrip didapatkan
bahwa Syeikh Abdul
Qadir berkata, ”Sebuah
suara berkata kepadaku
saat aku berada di
pengasingan diri,
“kembali ke Baghdad
dan ceramahilah orang-
orang”. Aku pun ke
Baghdad dan
menemukan para
penduduknya dalam
kondisi yang tidak aku
sukai dan karena itulah
aku tidak jadi mengikuti
mereka”.
“Sesungguhnya” kata
suara tersebut, “Mereka
akan mendapatkan
manfaat dari
keberadaan dirimu”.
“Apa hubungan mereka
dengan keselamatan
agamaku/keyakinanku”
tanyaku. “Kembali (ke
Baghdad) dan engkau
akan mendapatkan
keselamatan
agamamu” jawab suara
itu.
Aku pun membuat 70
perjanjian dengan Allah.
Di antaranya adalah
tidak ada seorang pun
yang menentangku dan
tidak ada seorang
muridku yang meninggal
kecuali dalam keadaan
bertaubat. Setelah itu,
aku kembali ke Baghdad
dan mulai berceramah.
Beberapa
Kejadian
Penting
Suatu ketika, saat aku
berceramah aku melihat
sebuah cahaya terang
benderang mendatangi
aku. “Apa ini dan ada
apa?” tanyaku.
“Rasulallah SAW akan
datang menemuimu
untuk memberikan
selamat” jawab sebuah
suara. Sinar tersebut
semakin membesar dan
aku mulai masuk dalam
kondisi spiritual yang
membuatku setengah
sadar. Lalu, aku melihat
Rasulallah SAW di depan
mimbar, mengambang
di udara dan
memanggilku, “Wahai
Abdul Qadir”. Begitu
gembiranya aku dengan
kedatangan Rasulullah
SAW, aku melangkah
naik ke udara
menghampirinya. Ia
meniup ke dalam
mulutku 7 kali.
Kemudian Ali datang
dan meniup ke dalam
mulutku 3 kali.
“Mengapa engkau tidak
melakukan seperti yang
dilakukan Rasulallah
SAW?” tanyaku
kepadanya. “Sebagai
rasa hormatku kepada
Rasalullah SAW” jawab
beliau.
Rasulallah SAW
kemudian memakaikan
jubah kehormatan
kepadaku. “apa ini?”
tanyaku. “Ini” jawab
Rasulallah, “adalah jubah
kewalianmu dan
dikhususkan kepada
orang-orang yang
mendapat derajad Qutb
dalam jenjang
kewalian”. Setelah itu,
aku pun tercerahkan
dan mulai berceramah.
Saat Nabi Khidir As.
Datang hendak
mengujiku dengan ujian
yang diberikan kepada
para wali sebelumku,
Allah membukakan
rahasianya dan apa
yang akan dikatakannya
kepadaku. Aku berkata
kepadanya, ”Wahai
Khidir, apabila engkau
berkata kepadaku,
“Engkau tidak akan
sabar kepadaku”, aku
akan berkata
kepadamu, “Engkau
tidak akan sabar
kepadaku”. “Wahai
Khidir, Engkau termasuk
golongan Israel
sedangkan aku
termasuk golongan
Muhammad, inilah aku
dan engkau. Aku dan
engkau seperti sebuah
bola dan lapangan, yang
ini Muhammad dan yang
ini ar Rahman, ini kuda
berpelana, busur
terentang dan pedang
terhunus.”
Al-Khattab pelayan
Syeikh Abdul Qadir
meriwayatkan bahwa
suatu hari ketika beliau
sedang berceramah
tiba-tiba beliau berjalan
naik ke udara dan
berkata, “Hai orang
Israel, dengarkan apa
yang dikatakan oleh
kaum Muhammad ” lalu
kembali ke tempatnya.
Saat ditanya mengenai
hal tersebut beliau
menjawab, ”Tadi Abu
Abbas Al-Khidir As
lewat dan aku pun
berbicara kepadanya
seperti yang kalian
dengar tadi dan ia
berhenti ”.
Hubungan Guru
dan Murid
Syeikh Abdul Qadir
berkata, ”Seorang
Syeikh tidak dapat
dikatakan mencapai
puncak spiritual kecuali
apabila 12 karakter
berikut ini telah
mendarah daging dalam
dirinya.
1. Dua karakter dari
Allah yaitu dia
menjadi seorang
yang sattar
(menutup aib) dan
ghaffar (pemaaf).
2. Dua karakter dari
Rasulullah SAW yaitu
penyayang dan
lembut.
3. Dua karakter dari
Abu Bakar yaitu jujur
dan dapat dipercaya.
4. Dua karakter dari
Umar yaitu amar
ma’ruf nahi munkar.
5. Dua karakter dari
Utsman yaitu
dermawan dan
bangun ( tahajjud)
pada waktu orang
lain sedang tidur.
6. Dua karakter dari Ali
yaitu alim ( cerdas/
intelek) dan
pemberani.
Masih berkenaan
dengan pembicaraan di
atas dalam bait syair
yang dinisbatkan
kepadanya dikatakan:
Bila lima perkara tidak
terdapat dalam diri
seorang syeikh maka ia
adalah Dajjal yang
mengajak kepada
kesesatan.
Dia harus sangat
mengetahui hukum-
hukum syariat dzahir,
mencari ilmu hakikah
dari sumbernya, hormat
dan ramah kepada
tamu, lemah lembut
kepada si miskin,
mengawasi para
muridnya sedang ia
selalu merasa diawasi
oleh Allah.
Syeikh Abdul Qadir juga
menyatakan bahwa
Syeikh al Junaid
mengajarkan standar al
Quran dan Sunnah
kepada kita untuk
menilai seorang syeikh.
Apabila ia tidak hafal al
Quran, tidak menulis
dan menghafal Hadits,
dia tidak pantas untuk
diikuti.
Ali ra. bertanya kepada
Rasulallah SAW, “Wahai
Rasulullah, jalan
manakah yang terdekat
untuk sampai kepada
Allah, paling mudah bagi
hambanya dan paling
afdhal di sisi-Nya.
Rasulallah berkata, “Ali,
hendaknya jangan
putus berzikir
(mengingat) kepada
Allah dalam khalwat
(kontemplasinya)”.
Kemudian, Ali ra.
kembali berkata, “Hanya
demikiankah fadhilah
zikir, sedangkan semua
orang berzikir”.
Rasulullah berkata,
“Tidak hanya itu wahai
Ali, kiamat tidak akan
terjadi di muka bumi ini
selama masih ada orang
yang mengucapkan
‘Allah’, ‘Allah’.
“Bagaimana aku
berzikir?” tanya Ali.
Rasulallah bersabda,
“Dengarkan apa yang
aku ucapkan. Aku akan
mengucapkannya
sebanyak tiga kali dan
aku akan
mendengarkan engkau
mengulanginya
sebanyak tiga kali pula”.
Lalu, Rasulallah berkata,
“Laa Ilaaha Illallah”
sebanyak tiga kali
dengan mata terpejam
dan suara keras. Ucapan
tersebut di ulang oleh
Ali dengan cara yang
sama seperti yang
Rasulullah lakukan. Inilah
asal talqin kalimat Laa
Ilaaha Illallah. Semoga
Allah memberikan
taufiknya kepada kita
dengan kalimat
tersebut.
Syeikh Abdul Qadir
berkata, ”Kalimat tauhid
akan sulit hadir pada
seorang individu yang
belum di talqin dengan
zikir bersilsilah kepada
Rasullullah oleh
mursyidnya saat
menghadapi sakaratul
maut ”.
Karena itulah Syeikh
Abdul Qadir selalu
mengulang-ulang syair
yang berbunyi: Wahai
yang enak diulang dan
diucapkan (kalimat
tauhid) jangan engkau
lupakan aku saat
perpisahan (maut).
Pada tahun 521 H/1127
M, dia mengajar dan
berfatwa dalam semua
madzhab pada
masyarakat sampai
dikenal masyarakat
luas. Selama 25 tahun
Syeikh Abdul Qadir
menghabiskan
waktunya sebagai
pengembara sufi di
Padang Pasir Iraq dan
akhirnya dikenal oleh
dunia sebagai tokoh sufi
besar dunia Islam. Selain
itu dia memimpin
madrasah dan ribath di
Baghdad yang didirikan
sejak 521 H sampai
wafatnya di tahun 561
H. Madrasah itu tetap
bertahan dengan
dipimpin anaknya Abdul
Wahab (552-593
H/1151-1196 M),
diteruskan anaknya
Abdul Salam (611
H/1214 M). Juga dipimpin
anak kedua Syeikh
Abdul Qadir, Abdul
Razaq (528-603
H/1134-1206 M), sampai
hancurnya Baghdad
pada tahun 656 H/1258
M.
Syeikh Abdul Qadir juga
dikenal sebagai pendiri
sekaligus penyebar
salah satu tarekat
terbesar didunia
bernama Tarekat
Qodiriyah.
Ia wafat pada hari
Sabtu malam, setelah
magrib, pada tanggal 9
Rabiul akhir di daerah
Babul Azajwafat di
Baghdad pada 561
H/1166 M.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s