Ancaman Penjara untuk Diriku II

Merupakan kelanjutan dari Ancaman Penjara untuk Diriku
Setelah aku pikir-pikir, pekerjaan masih banyak menanti di luar sana, belum lagi ada yang memanggil di luar perkiraan, terbersitlah rasa ingin menandatangi sendiri kartu itu.

Seminggu berlalu, dua minggu, 3 mingu, bencana datang juga akhirnya.
Ya tak tahulah, si Pak Tok tadi telepon ke nomor hpku dan menanyakan siapa yang menandatangi kartu tersebut.
“Pak tomo ya, siapa yang menandatangani kartu kuning itu?” tanya pak tok yang tanpa basa-basi.
“Saya sendiri pak,” jawabku dengan agak gugup.
“Kenapa bapak tandatangani sendiri,” tanyanya lebih lanjut.
“Ya karena menunggu bapak lama sekali hampir 2 jam lebih tak kunjung datang,” jawabku.
“Mana bisa begitu, kan ada asisten saya,” sanggahnya.
“Asisten bapak tidak berani tanda tangan dan saya disuruh menunggu kedatangan bapak,” jawabku.
“Kenapa tidak bapak tunggu?” tanya pak tok lagi.
“Maaf pak saya harus mengerjakan tugas lain yang sudah menunggu.

Setelah saya meminta maaf, langsung saja telepon ditutup oleh pak tok tadi.
Wo alah pak pak, Anda itu sebenarnya pentolannya pabrik sebesar itu la dadakno kok kasar bianget bicaramu dengan orang kecil. Coba saja kalau Anda bicara dengan Pak SBY, pasti manggut-manggut tok kaya marmut nanti, ya kan pak.

Karena kata maafku belum di acc, aku pun bergegas menuju ke kantor besarnya di daerah Candi Sidoarjo. Dengan naik sepeda motor, diriku mengebut supaya lebih cepat sampai. Aku ingin meminta maaf kalau memang salah.

Akhirnya, setelah hampir 45 menit, aku tiba di lokasi.
Waduuh…badan terasa gemetar karena ngebut berkendara. Aku ingin bertanggung jawab atas apa yang telah aku perbuat.

Setelah di tempat parkir, aku di telepon kantorku katanya aku dicari oleh pak tok.
Kantorku iku yo ngono, ora gelem bantu agar diriku aman saja, malah dilempar ke karyawan kecil seperti diriku ini.
Melase rek rek…
Aku berjalan ke kantornya dengan berjalan kaki selama kira-kira 10 menit, di tengah teriknya matahari.

Mak Guuooobrak…
Aku di depan pintu si pak tok sudah ngomel.
“Ini dia pak orangnya, ini dia pak orangnya,” kata pak tok berkali-kali.
Aku cuek saja toh juga aku ke situ untuk meminta maaf.
“Selamat siang pak…,” kataku menyapa pak tok.
Eh…bukannya menjawab salamku malah aku langsung diawe-awe (dipanggil) ke tempat duduk yang ada di ruang meetingnya.
Aku didakwa oleh 2 orang, pak tok dan atasannya.

Setelah duduk, aku ditanya.
“Siapa yang menandatangani kartu kuningnya,” kata pak tok.
“Saya pak,” jawabku.
“Lancang sekali kamu itu ya, di sini kan tertulis bahwa yang menandatangani ustomer, bukan teknisi sendiri,” kata pak tok.
“Maaf pak, saya salah,” ujarku.
“lalu kenapa kamu tandatangani sendiri,” tanya atasannya pak tok.
“Pada waktu itu menjelang istirahat, kira-kira jam 11-an aku datang, dan setelah servis aku lihat pak tok sedang tidak ada di tempat. Aku meminta tanda tangan ke asistennya katanya disuruh menunggu pak tok. Setelah lama menunggu hampir 2 jam, pak tok tak kunjung datang ya akhirnya aku tandatangani sendiri,” jawabku.

Bukannya istirahat kanot iru hanya satu jam saja, lalu dimanakah dirimu pak tok yang sejam kok tak kunjung datang di tempat kerja, pikirku dalam hati.
“Kamu sudah benar mau datang yang menandakan kamu bertanggung jawab, tapi semua aku serahkan ke pak tok saja,” kata atasannya pak tok sambil meninggalkan tempat meeting.
“Kamu lancang sekali, aku tidak terima. Kamu harus diajukan ke pengadilan,” kata pak tok.
“Haa…ke pengadilan,” tanyaku kaget.
“Kamu telah melanggar aturan main yang ada. Kamu seharusnya di penjara,” katanya lebih lanjut.

Aku terdiam seribu bahasa, apa yang harus aku katakan kali ini ya.
Aku terus menerus gemetar, tubuh serasa melayang mendapat ucapan yang tidak enak itu. Harapanku, kantorlah yang seharusnya membelaku. Tapi setelah aku tunggu setengah jam, kiranya belaan dari kantor tak ada sama sekali. Apa yang harus aku perbuat, ya Alloh…

Keringat dingin bercucuran membasahi bajuku. Berkali-kali aku meminta maaf dan tak akan mengulangi lagi. pak Tok minta pergantian teknisi dan saya akan dibawa ke pengadilan.
Setelah agak lama terdiam, meski ocehan tetap terdengar dengan jelas di telingaku, akhirnya aku putuskan untuk menyelesaikan sendiri kasus ini, nanti biar kantor yang membantu keesokan harinya.

Ampuuuu….
Jangan dipenjara to pak tok pak tok.
Wong Jowo tapi ora Kejawen babar blas.
Huuuh…..
berlanjut ke bagian 3 saja ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s